Rabu, 06 Juni 2012

PTK PLPG MATEMATIKA KELAS V VERSI UMP




PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS


MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA
DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA
DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA DAN METODE BERMAIN PERAN
                     PADA SISWA KELAS V SD NEGERI NEGARAJATI 04                   
KECAMATAN CIMANGGU KABUPATEN CILACAP





UMP.JPG
 











OLEH :

SUNARTI
No.Peserta 120301 027 1 0483



SD NEGERI NEGARAJATI 04
UPT DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA
KECAMATAN CIMANGGU



LEMBAR PERSETUJUAN


Proposal Penelitian Tindakan Kelas


MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA
DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA
DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA DAN METODE BERMAIN PERAN
PADA SISWA KELAS V SD NEGERI NEGARAJATI 04
KECAMATAN CIMANGGU KABUPATEN CILACAP









SUNARTI
No.Peserta 120301 027 1 0483



Diperiksa dan disetujui Oleh :
                                                                                                  
Kepala Sekolah




SUNGKANA,S.Pd
NIP. 19640306 198405 1 004
KATA PENGANTAR

Terucap kata syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, peneliti dapat menyusun Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini. Proposal ini disusun dan diajukan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan pembelajaran di kelas khususnya mata Pelajaran Matematika  terutama mengenai soal cerita.
Proposal Penelitian Tindakan Kelas (PTK) disusun berdasarkan kasus dalam pembelajaran Matematika di Kelas V SD Negeri Negarajati 04 UPT Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kecamatan Cimanggu Kabupaten Cilacap, dengan harapan mampu mengatasi kasus yang dihadapi sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat dan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penyusunan laporan ini, khususnya kepada kepala sekolah yang telah memberikan kesempatan dan mendukung dilaksanakannya Penelitian.
Penulis menyadari bahwa penulisan Proposal ini masih jauh dari sempurna, untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan. Semoga Proposal Penelitian ini dapat bemanfaat bagi peningkatan mutu pendidikan.


Purwokerto,   Mei 2012


               Penulis


DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL…………………………………………………………….
LEMBAR PERSETUJUAN…………………..………………………………
KATA PENGANTAR………………………………………………………...
DAFTAR ISI…………………………………………………………………..

i
ii
iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang Masalah………………………………….
B.        Rumusan Masalah………………………………………..
C.        Tujuan Penelitian…………………………………………
D.        Manfaat Penelitian……………………………………….

1
2
3
3
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.        Landasan  Teori…………………………………………..
B.        Penelitian Yang Relevan ………………………………...
C.        Kerangka Berpikir……………………………………….
D.        Hipotesis Penelitian…………………………………........

4
7
8
8
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.        Setting Penelitian………………………………………...
B.        Subyek Penelitian………………………………………..
C.        Tekhnik dan Alat Pengumpulan Data……………………
D.        Analisis Data ……………………………………………
E.         Indikator Penelitian………………………………………
F.         Prosedur Penelitian ……………………………………...
G.        Jadwal Penelitian ..………………………………………

9
9
9
10
11
11
12
DAFTAR PUSTAKA
15


 
BAB I
PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang Masalah

Proses dan hasil belajar siswa, keduanya merupakan hal yang sering diperbincangkan guru mana pun, karena sangat kontroversial antara harapan dengan kenyataan. Harapannya proses belajar siswa berlangsung secara aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan. Proses belajar seperti ini merupakan persyaratan utama bagi siswa agar berhasil mencapai tujuan. Namun kenyataannya, tidak demikian. Demikian pun dengan harapan hasil belajar, yang seharusnya menguasai materi secara optimal, yang terjadi justru tidak demikian.
Mata pelajaran Matematika di sekolah dasar bertujuan untuk membekali siswa agar memiliki kemampuan untuk menghitung dan mengaplikasikan masalah yang berkaitan dengan bilangan guna menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi di kemudian hari. Dalam proses pembelajaran di kelas guru berkewajiban menerapkan konsep-konsep Matematika secara mendasar agar siswa dapat menyelesaikan masalah atau soal-soal yang dihadapi. Belajar Matematika merupakan suatu proses.
Proses pengelolaan ini adalah menjadi tanggung jawab guru yang benar-benar harus disadarinya dengan penuh kesungguhan dan kesanggupan untuk selalu memberikan jalan terbaik kepada siswa agar bisa tiba di tujuan yang diharapkan. Siswa hanyalah subjek atau pelaku belajar, sehingga sangat tidak mungkin mampu melakukan apapun tanpa ada yang membimbing dan mengarahkan pada perbuatan belajar yang dikehendaki. Ini menunjukan betapa sangat dibutuhkannya peran serta guru bagi proses belajar dan untuk hasil belajar siswa di saat mempelajari mata pelajaran ini.
Namun tidak sedikit hambatan yang dihadapi dalam hal pembelajaran, seperti halnya yang dihadapi guru saat melaksanakan pembelajaran Matematika. Kekurangmampuan mengatasi masalah akan menjadi faktor pemicu pembelajaran yang diselenggarakan kurang berhasil mengantarkan siswa pada tercapainya tujuan yang diharapkan.
Keberhasilan pembelajaran ditunjukkan dengan dikuasainya materi pembelajaran siswa. Tercapainya tujuan pembelajaran siswa dapat diukur dengan tes hasil pembelajaran atau formatif. Temuan di lapangan, di tempat peneliti bertugas menunjukkan adanya kesenjangan antar harapan dan kenyataan. Pada studi awal pembelajaran Matematika materi “Menyelesaikan Soal Cerita”, hasil dari ulangan siswa menunjukkan rendahnya tingkat penguasaan materi yang diajarkan. Ini dapat ditunjukkan hanya 5 % dari jumlah siswa yang memiliki nilai diatas KKM.
Berdasarkan hal tersebut, peneliti meminta bantuan supervisor, kepala sekolah dan teman sejawat untuk membantu mengidentifikasi kekurangan dari pembelajaran yang dilaksanakan. Dari hasil diskusi terungkap beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran yaitu :
1.      Rendahnya motivasi belajar matematika siswa
2.      Metode / Strategi pembelajaran yang kurang tepat
Analisis masalah ditempuh dengan cara melakukan refleksi dari kinerja yang telah dilakukan, mengkaji literatur serta diskusi dengan supervisor.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil analisis masalah dapat diketahui bahwa kemungkinan yang menjadi faktor penyebab rendahnya hasil belajar, motivasi, dan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal cerita Matematika, terjadi karena hal-hal sebagai berikut:
1.      Strategi mengajarkan soal cerita kuarang tepat
2.      Penjelasan materi terlalu cepat, sehingga siswa kurang memahaminya.
3.      Kurangnya perhatian siswa saat pembelajaran berlangsung
4.      Guru tidak melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran
Untuk itulah peneliti merumuskan permasalahn sebagai berikut : ” Apakah dengan menggunakan metode barmain peran dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita Matematika ? ”

C.           Tujuan Penelitian
Tujuan dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1.      Untuk memperbaiki pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga hasil belajar meningkat.
2.      Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Matematika materi Penyelesaian Soal Cerita melalui penerapan strategi bermain peran.
3.      Untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran Matematika.

D.           Manfaat Penelitian
Diharapkan penelitian ini juga dapat memberikan manfaat bagi :
1.      Siswa
a.       Dapat meningkatkan motivasi belajar siswa
b.      Meningkatkan hasil belajar
2.      Guru
a.       Dapat Memperbaiki pembelajaran yang dikelolanya
b.      Dapat berkembang secara profesional dan lebih percaya diri
c.       Mendapat kesempatan untuk berperan aktif mengembangkan   pengetahuan dan keterampilan sendiri.
d.      Untuk memperbaiki kinerja guru khususnya dalam kegiatan pembelajaran.
3.      Sekolah
Dapat membantu sekolah untuk berkembang karena adanya peningkatan kemampuan pada diri guru dan pendidikan di sekolah.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.     Landasan Teori

1.Pengertian Belajar
Menurut Gagne (1984:85 ) belajar didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya akibat suatu pengalaman. Galloway dalam Toeti Soekamto (1992:27) mengatakan belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi, emosi dan faktor-faktor lain berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Sedangkan Morgan menyebutkan bahwa suatu kegiatan dikatakan belajar apabila memiliki tiga ciri-ciri sebagai berikut (1) belajar adalah perubahan tingkah laku, (2) perubahan terjadi karena latihan dan pengalaman, bukan karena pertumbuhan, (3) perubahan tersebut harus bersifat permanen dan tetap ada untuk waktu yang cukup lama.
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku  manusia dan mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan.  Belajar memegang peranan penting di dalam perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, kepribadian, dan bahkan persepsi manusia.
Belajar menurut James O. Whittaker dalam Darsono (2000: 4) “Learning  may be defined as the process by which behavior originates or is altered through training or experience” belajar dapat didefinisikan sebagai proses menimbulkan atau merubah perilaku melalui latihan atau pengalaman.
Menurut Wingkel dalam Darsono (2000: 4) belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan dan nilai sikap.
 Djamarah (2002:13) mengemukakan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Slameto dalam Djamarah (2002:13) merumuskan juga tentang pengertian belajar yaitu suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu  itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
  Dari beberapa pendapat di atas  dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan dalam diri manusia yang tampak dalam perubahan tingkah laku seperti  kebiasaan, pengetahuan, sikap, keterampilan, dan daya pikir.

2.      Pengertian Hasil Belajar
Menurut Catharina Tri Anni (2002:4) hasil belajar merupakan  perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas  belajar. Hasil belajar juga merupakan kemampuan yang diperoleh siswa  setelah melalui kegiatan belajar (H. Nashar, 2004: 77). Hasil belajar adalah  terjadinya perubahan dari hasil masukan pribadi berupa motivasi dan  harapan untuk berhasil dan masukan dari lingkungan berupa rancangan  dan pengelolaan motivasional tidak berpengaruh terdadap besarnya usaha  yang dicurahkan oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar (Keller dalam H Nashar, 2004: 77). Seseorang dapat  dikatakan telah belajar  sesuatu  apabila dalam dirinya telah terjadi  suatu perubahan, akan tetapi tidak  semua perubahan yang terjadi. Jadi  hasil belajar merupakan pencapaian  tujuan belajar dan hasil belajar sebagai produk dari proses belajar, maka  didapat hasil belajar

3.      Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran merupakan deskripsi tentang perubahan  perilaku yang diinginkan atau deskripsi tentang perubahan perilaku yang diinginkan atau deskripsi produk yang menunjukkan bahwa belajar telah  terjadi.   Gagne dan Briggs dalam Nashar (1999:142) mengklasifikasikan hasil belajar  menjadi 5 yaitu:
1.      Keterampilan intelektual (Intellectual Skills)
2.      Strategi Kognitif (Cognitive Strateggies)  
3.      Informasi verbal (Verbal Information)
4.      Keterampilan motorik (Motor Skills)
5.      Sikap (Attitudes)

4.      Model Pembelajaran
Model pembelajaran menurut Joyce dan Weil (1996: 4) adalah suatu polayang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam setting tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum dan lain-lain. Saripuddin (1996: 78) mengatakan bahwa model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
Dari kedua pandangan di atas menunjukkan bahwa model pembelajaran itu tidak lain adalah suatu pola atau kerangka konseptual yang berisi prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model atau pola ini menjadi pedoman bagi guru dan perancang pembelajaran dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran.

5.    Media Pembelajaran Matematika
Menurut H.W. Fowler (Suyitno, 2000:1) matematika adalah ilmu yang mempelajari tentang bilangan dan ruang yang bersifat abstrak. Sehingga untuk menunjang kelancaran pembelajaran disamping pemilihan metode yang tepat juga perlu digunakan suatu media pembelajaran yang sangat berperan dalam membimbing abstraksi siswa (Suyitno, 2000:37).
Menurut Darhim(1993:10) adapun nilai atau fungsi khusus media pendidikan matematika antara lain:
a)       Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya salah komunikasi,
b)      Untuk membangkitkan minat atau motivasi belajar siswa,
c)      Untuk membuat konsep matematika yang abstrak, dapat disajikan dalam bentuk konkret sehingga lebih dapat dipahami, dimengerti dan dapat disajikan sesuai dengan tingkat-tingkat berpikir siswa.
Jadi salah satu fungsi media pembelajaran matematika adalah untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Sedangkan motivasi dapat mengarahkan kegiatan belajar, membesarkan semangat belajar juga menyadarkan siswa tentang proses belajar dan hasil akhir. Sehingga dengan meningkatnya motivasi belajar siswa dapat meningkatkan hasil belajarnya pula (Dimyati, 1994:78-79).

B.  Hasil Penelitian Yang Relevan
Penelitian Saminanto, 2006 yang melakukan penelitian tindakan kelas pembelajaran matematika berbasis Diskovery-Eksperimen ,2007 yang melakukan penelitian tentang model pembelajaran turnamen matematika,  ternyata menunjukkan semangat siswa untuk mempelajari materi yang sedang dipelajari secara aktif dan mandiri. Semangat tersebut terjadi karena siswa dihadapkan pada model pembelajaran yang mereka anggap baru, yang menuntut mereka untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran sehingga siswa membutuhkan prasarat pengetahuan  seperti yang akan dihadapi sekarang. Penelitian yang dilakukan Wardodno, 2005 tentang penerapan pembelajaran kooperatif dengan teams games tournament (TGT) memberikan kesimpulan bahwa pembelajaran dengan kooperatif TGT dapat meningkatkan hasil belajar siswa . Selain hal tersebut juga didasarkan pada makalah tentang model pembelajaran matematika probing solving dengan vedio compact disk yang ditulis Nuriana R.D, SPd, MPd.








C.   Kerangka Berpikir
Kondisi Awal


Guru Belum Menggunakan Metode Bermain Peran

Pemahaman Konsep
 siswa rendah







Tindakan (Action)

Guru menggunakan Metode
Bermain Peran

Siklus I
Dengan bantuan alat peraga, siswa diajak terinteraksi secara langsung dengan melaksanakan kegiatan tanggung jawab, dan diakhiri pemberian tugas LKS.







Siklus II
Untuk memantapkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran, peneliti memberi tugas bermain peran menyelesaikan soal cerita Matematika
Kondisi Akhir

Terjadinya peningkatan pemahaman konsep menyelesaikan soal cerita setelah pembelajaran menggunakan Media dan Metode bermain peran.

D.     Hipotesis Tindakan
Dengan mempertimbangkan dan merujuk pada beberapa pendapat ahli, disusunlah hipotesis tindakan sebagai berikut :
a.       Penggunaan metode Bermain peran dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika.
b.      Pemberian motivasi belajar dapat mendukung keberhasilan pembaelajaran Matematika.



BAB III
METODE PENELITIAN


A.        Setting Penelitian
Tempat dan Waktu Pelaksanaan
a.       Tempat                           : SD Negeri Negarajati 04
   Kecamatan                     : Cimanggu
   Kabupaten                      : Cilacap
   Provinsi                          : Jawa Tengah
b.      Kelas                              : V (lima)
c.       Mata Pelajaran               : Matematika
d.      Standar Kompetensi      : “Menyelesaikan Soal cerita”
e.       Waktu Pelaksanaan        : Satu bulan

B.                 Subjek yang Diteliti
a.       Input, siswa kelas V   SD Negeri Negarajati 04 UPT Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kecamatan Cimanggu, guru dan media pembelajaran
b.      Proses, proses belajar mengajar dengan menggunakan metode Bermain peran
c.       Out put, nilai hasil belajar siswa dan minat belajar siswa

C.                Data, Teknis Pengumpulan dan Analisis Data
1.   Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri Negarajati 04  Kecamatan Cimanggu  Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah.

2.   Jenis Data
Data yang dikumpulkan adalah data kualitatif dan kuantitatif yang terdiri atas :
a)      Proses belajar mengajar
b)      Data hasil belajar atau tes formatif
c)      Data tentang keterkaitan antara perencanaan dan pelaksanaan dari rencana pembelajaran dan lembar observasi.

3.   Cara Pengambilan Data
a)      Data proses belajar mengajar diambil saat dilaksanakan perbaikan tindakan kelas dengan menggunakan lembar observasi
b)      Data hasil belajar denagan memberikan tes formatif
c)      Data tentang keterlibatan antara perencanaan dan pelaksanaan yang diambil dari rencana pembelajaran dan lembar observasi.

D.   Analisis Data
1.  Analisis Prestasi Belajar
Untuk mengetahui hasil penelitian yaitu nilai pre-tes dan post tes tiap sikuls, digunakan analisis presentase. Keunggulan menggunakan analisis presentase adalah sebagai alat penguji informasi bahwa akan mengetahui peningkatan nilai pada tiap-tiap siklus penelitian.
2.  Analisis Prestasi Belajar Klasikal
Untuk mengukur tingkat ketercapaian  atau ketuntasan klasikal maka dapat dicari dengan rumus :
                 Tingkat ketuntasan klasikal
TK =                                                         x 100
                             Seluruh siswa             
TK = Tingkat Ketuntasan Klasikal
Dengan criteria mengacu pada indicator keberhasilan belajar, dimana kelas mencapai ketuntasan maksimal 85 % siswa telah tuntas belajar pada pembelajaran Matematika.
3. Analisis Minat Belajar Siswa
Tingkat minat dalam penelitian ini untuk mengetahui kerjasama siswa dalam kemompok yang diukur dengan menggunakan angket kerjasama siswa dalam kelompok untuk mengetahui refleksi siswa terhadap pembelajaran.


E.         Indikator Penelitian
Indikator keberhasilan belajar siswa yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Daya serap telah mencapai 80 % lebih.
2.  Tidak ada siswa yang memiliki nilai di bawah 65.

F.        Prosedur Penelitian Tindakan Kelas

Peneliti melaksanakan perbaikan pembelajaran proses pengkajian berdaur, yang terdiri atas empat tahap yaitu merencanakan (planning), melakukan tindakan (acting), mengamati (observing), refleksi (reflecting)
Hasil refleksi terhadap tindakan yang dilakukan digunakan kembali untuk memperbaiki rencana apabila masalah yang dihadapi belum berhasil diselesaikan. Tahapan dalam PTK dapat digambarkan sebagai berikut :




 









Gambar 3.1  Daur Penelitian Tindakan Kelas







G.        Jadwal Penelitian
Penelitian direncanakan dua siklus yaitu suklus I dan siklus II. Penelitian akan dilaksanakan pada semester II.
Beiktu ini adalah jadwal penelitian :

No
Kegiatan

Keterangan
April
Mei
1
2
3
4
1
2
3
4
2
Pelaksanaan Siklus I










- Perencanaan

x
x







- Pelaksanaan



x






- Observasi




x





- Analisis Data




x





- Refleksi




x




3
Pelaksanaan Siklus II










- Perencanaan





x




- Pelaksanaan





x




- Observasi





x




- Analisis Data






x



- Refleksi






x


4
Penyusunan Hasil Laporan






x


5
Pelaporan






x











DAFTAR PUSTAKA

Ristaka, R dan Prayitno (2006) Panduan Penelitian Tindakan Kelas, Purwokerto, UPBJJ Purwokerto
Kemis & MC. Taggart (1994) The Action Research Planer. Gelong : Deaken, Universiti Pres
Depdiknas (2003). Kegiatan Belajar Mengajar Yang Efektif. Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional.
Ari Kunto, S. Sukardjono, P. Supardi (2006) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta. Bumi Aksara












0 komentar:

Poskan Komentar